Salam

السلا م عليكم ورحمة الله وبركاته

Welcome to Al-Khairy Blog ~ (^_^) ~ Selamat Datang ke Al-Khairy Blog

ANDA BERHAK UNTUK MENYEBARKAN "HADIS-HADIS & FADHILAT-FADHILAT SERTA DAKWAH AMR MA'RUF" YANG ADA DALAM BLOG INI TANPA MEMINTA IZIN TERLEBIH DAHULU

Selamat Datang

Like

Search This Blog

Aqidah Ahlulsunnah Wal Jamaah

IKUTILAH AS-SUNNAH

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣١)

“Katakanlah (Wahai Muhmmad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah s.a.w.), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Surah Ali 'Imraan, 3: 31)


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Surah Al-Ahzab, 33: 21)

TV Al-Quran

TvQuran
Showing posts with label Kisah Sahabat. Show all posts
Showing posts with label Kisah Sahabat. Show all posts

Saturday, February 18, 2012

ILMU atau HARTA



Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPPDaePvm9kJYXUbpn3dksCuvdgv-P1KmBHvRzexjL_LaG82nhFGIQVWh8KeU_cOhfMAtk7CtFl2cJguHpvXLDK6eTCGb897HbDphQyVotD4Ho1IgLRL4fWAML2ySiFoYKSp430YMgYoQ/s1600/15318_114896395208172_100000634357908_139375_2822399_n.jpgSepuluh orang pembesar Yahudi telah datang menemui Sayidina Ali k.w.j secara bergilir-gilir. Mereka bertanyakan satu soalan yang serupa dan dijawab oleh Sayidina Ali dengan sepuluh jawapan yang berbeza-beza. 
 

Soalannya: "Yang manakah lebih bermanfaat ilmu atau harta?"

" Tentulah ilmu" jawab Sayidina Ali.

" Apakah alasan tuan berkata demikian?"

Sayidina Ali menjawab: "Ilmu itu pusaka ataupun warisan para Nabi sebaliknya harta itu pusaka Qarun."

Soalan: "Yang manakah lebih bermanfaat,ilmu atau harta? "

Sayidina Ali pun pun menjawab: "Tentulah iImu kerana ilmu itu menjaga dan memelihara kita, tetapi harta kita pula yang terpaksa menjaga dan memeliharanya."

Kali ketiga Sayidina Ali pun menjawab: "Tentulah ilmu kerana orang yang berharta banyak musuhnya seperti pencuri dan penyamun, dan sentiasa pula bimbang akan hartanya itu. Sebaliknya orang yang berilmu ramai sahabat dan sentiasa selamat. "

Jawapan keempat : "Ilmu lebih bermanfaat kerana harta jika selalu digunakan akan berkurangan, sebaliknya ilmu jika selalu digunakan akan bertambah. "

Jawapan yang kelima: "Ilmu lebih bermanfaat kerana orang berharta kerap dipanggil dengan gelaran bakhil atau cela. Tetapi orang berilmu sering dipanggil dengan nama yang baik dan mulia."

Jawapan yang keenam: "Ilmu lebih bermanafaat kerana harta perlu dijaga supaya tidak dicuri tetapi ilmu tidak perlu menjaganya daripada kecurian."

Jawapan ketujuh: " Ilmu lebih bermanfaat kerana harta akan dihisab kelak tetapi ilmu akan memberi syafaat."

Jawapan kelapan: Sayidina Ali tetap mengatakan " Ilmu lebih bermanafaat kerana harta akan rosak sekiranya disimpan tetapi ilmu tidak akan rosak walau selama manapun disimpan."

Jawapan kesembilan: " Ilmu lebih bermanafaat kerana harta mengeraskan hati tetapi ilmu melembutkan hati."

Dan jawapan yang terakhir untuk pembesar Yahudi yang kesepuluh Sayidina Ali tetap mangatakan "ilmu lebih bermanfaat daripada harta kerana pemilik harta selalu merasakan dirinya hebat, malah ada yang merasakan dirinya Tuhan seperti Qarun. Tetapi pemilik ilmu selalu merasakan dirinya lemah dan hamba Allah."

Akhirnya sepuluh orang pembesar Yahudi itu berkumpul semula membincangkan jawapan yang diberi oleh SayidinaAli. Memang benarlah Sayidina Ali seorang yang tinggi ilmunya. Dengan kehendak Allah kesepuluh orang pembesar Yahudi itu pergi semula ke rumah Sayidina Ali untuk memeluk agama Islam.

Kata Sayidina Ali: "Jika datang lagi mereka kepada aku bertanyakan soalan yang sama, aku tetap akan memberikan jawapan yang berlainan sehingga akhir hayatku

http://hakaluka.blogspot.com/

Saturday, January 7, 2012

Abdurrahman bin Auf

Kisah Sahabat Nabi: Abdurrahman bin Auf, "Manusia Bertangan Emas"


Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan orang yang mula-mula masuk Islam. Ia juga tergolong sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah masuk surga dan termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah dalam pemilihan khalifah setelah Umar bin Al-Khathab. Di samping itu, ia adalah seorang mufti yang dipercayai Rasulullah berfatwa di Madinah selama beliau masih hidup.

Pada masa Jahiliyah, ia dikenal dengan nama Abd Amr. Setelah masuk Islam, Rasulullah memanggilnya Abdurrahman bin Auf. Ia memeluk Islam sebelum Rasulullah menjadikan rumah Al-Arqam sebagai pusat dakwah. Ia mendapatkan hidayah dari Allah dua hari setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq memeluk Islam.

Seperti kaum Muslimin yang pertama-tama masuk Islam lainnya, Abdurrahman bin Auf tidak luput dari penyiksaan dan tekanan dari kaum kafir Quraisy. Namun ia tetap sabar dan tabah. Abdurrahman turut hijrah ke Habasyah bersama kawan-kawan seiman untuk menyelamatkan diri dan agama dari tekanan Quraiys.

Tatkala Rasulullah SAW dan para sahabat diizinkan Allah hijrah ke Madinah, Abdurrahman menjadi pelopor kaum Muslimin. Di kota yang dulu bernama Yatsrib ini, Rasulullah mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi Al-Anshari.

Sa'ad termasuk orang kaya diantara penduduk Madinah, ia berniat membantu saudaranya dengan sepenuh hati, namun Abdurrahman menolak. Ia hanya berkata, "Tunjukkanlah padaku di mana letak pasar di kota ini!"

Sa'ad kemudian menunjukkan padanya di mana letak pasar. Maka mulailah Abdurrahman berniaga di sana. Belum lama menjalankan bisnisnya, ia berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk mahar nikah. Ia pun mendatangi Rasulullah seraya berkata, "Saya ingin menikah, ya Rasulullah," katanya.

"Apa mahar yang akan kau berikan pada istrimu?" tanya Rasul SAW.

"Emas seberat biji kurma," jawabnya.

Rasulullah bersabda, "Laksanakanlah walimah (kenduri), walau hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkati pernikahanmu dan hartamu."

Sejak itulah kehidupan Abdurrahman menjadi makmur. Seandainya ia mendapatkan sebongkah batu, maka di bawahnya terdapat emas dan perak. Begitu besar berkah yang diberikan Allah kepadanya sampai ia dijuluki 'Sahabat Bertangan Emas'.

Pada saat Perang Badar meletus, Abdurrahman bin Auf turut berjihad fi sabilillah. Dalam perang itu ia berhasil menewaskan musuh-musuh Allah, di antaranya Umar bin Utsman bin Ka'ab At-Taimy. Begitu juga dalam Perang Uhud, dia tetap bertahan di samping Rasulullah ketika tentara Muslimin banyak yang meninggalkan medan perang.

Abdurrahman bin Auf adalah sahabat yang dikenal paling kaya dan dermawan. Ia tak segan-segan mengeluarkan hartanya untuk jihad di jalan Allah. Pada waktu Perang Tabuk, Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk mengorbankan harta benda mereka. Dengan patuh Abdurrahman bin Auf memenuhi seruan Nabi SAW. Ia memelopori dengan menyerahkan dua ratus uqiyah
emas.

Mengetahui hal tersebut, Umar bin Al-Khathab berbisik kepada Rasulullah, "Sepertinya Abdurrahman berdosa karena tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya."

Rasulullah bertanya kepada Abdurrahman, "Apakah kau meninggalkan uang belanja untuk istrimu?"

"Ya," jawabnya. "Mereka kutinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripada yang kusumbangkan."

"Berapa?" tanya Rasulullah.

"Sebanyak rezeki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah."

Pasukan Muslimin berangkat ke Tabuk. Dalam kesempatan inilah Allah memuliakan Abdurrahman dengan kemuliaan yang belum pernah diperoleh siapa pun. Ketika waktu shalat tiba, Rasulullah terlambat datang. Maka Abdurrahman bin Auf yang menjadi imam shalat berjamaah. Setelah hampir selesai rakaat pertama, Rasulullah tiba, lalu shalat di belakangnya dan mengikuti sebagai makmum. Sungguh tak ada yang lebih mulia dan utama daripada menjadi imam bagi pemimpin umat dan pemimpin para nabi, yaitu Muhammad SAW.

Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatanUmmahatul Mukminin (para istri Rasulullah). Dia bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengadakan pengawalan bagi ibu-ibu mulia itu bila mereka bepergian.

Suatu ketika Abdurrahman bin Auf membeli sebidang tanah dan membagi-bagikannya kepada Bani Zuhrah, dan kepada Ummahatul Mukminin. Ketika jatah Aisyah ra disampaikan kepadanya, ia bertanya, "Siapa yang menghadiahkan tanah itu buatku?"

"Abdurrahman bin Auf," jawab si petugas.

Aisyah berkata, "Rasulullah pernah bersabda, 'Tidak ada orang yang kasihan kepada kalian sepeninggalku kecuali orang-orang yang sabar."

Begitulah, doa Rasulullah bagi Abdurrahman bin Auf terkabulkan. Allah senantiasa melimpahkan berkah-Nya, sehingga ia menjadi orang terkaya di antara para sahabat. Bisnisnya terus berkembang dan maju. Semakin banyak keuntungan yang ia peroleh semakin besar pula kedermawanannya. Hartanya dinafkahkan di jalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Walau termasuk konglomerat terbesar pada masanya, namun itu tidak memengaruhi jiwanya yang dipenuhi iman dan takwa.

Berbahagialah Abdurrahman bin Auf dengan limpahan karunia dan kebahagiaan yang diberikan Allah kepadanya. Ketika meninggal dunia, jenazahnya diiringi oleh para sahabat mulia seperti Sa'ad bin Abi Waqqash dan yang lain. Dalam kata sambutannya, Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata, "Engkau telah mendapatkan kasih sayang Allah, dan engkau berhasil menundukkan kepalsuan dunia. Semoga Allah selalu merahmatimu." Amin.

Saturday, December 10, 2011

Sa’ad bin Mu’adz r.a

Jangan lupa membagikan artikel ini setelah membacanya

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wa Ba’du:
Ini adalah  sebuah catatan ringkas dari riwayat hidup seorang tokoh terkemuka umat ini, siroh seorang pahlawan dan kesatria. Dia adalah salah seorang tokoh sahabat yang mulia dari shahabat Nabi. Kita akan memetik pelajaran berharga dan harum dari perjalanan hidupnya.
Shahabat Rasulullah SAW ini adalah seorang pahlawan dalam perang Badr, Uhud dan Khandak. Dia termasuk seorang yang tidak menghiraukan celaan orang yang mencela pada saat dia berda’wah di jalan Allah, Nabi Muhammad SAW memberitahukan bahwa dia termasuk seorang penghuni surga. ‘Arasy Allah yang Maha Rahman bergetar karena kematiannya. Dia masuk Islam di Madinah di tangan Mush’ab bin Umair RA.
Ibnu Hajar berkata: Dia adalah orang yang paling banyak berkahnya di dalam Islam dan dia memiliki keutamaan yang luar biasa.
Imam Al-Zahabai menuliskan riwayat hidup beliau: Pemimpin besar, Al-Syahid Abu Anru Sa’d bin Mu’adz bin Al-Nu’man Al-Anshori Al-Ausi al-Asyhali. Dia seorang lelaki dengan kulit putih, bertubuh tinggi, gagah, berwajah rupawan dan berjenggot indah:[1] Aisyah berkata:  Di Bani asyhal terdapat tiga orang yang tidak ada seorangpun yang lebih baik dari mereka, yaitu Sa’d bin Mu’adz, Uaid bin Huadhair dan Abbad bin Bisyr.[2]
Ibnu Ishaq berkata:  Pada saat dia masuk Islam dia berdiri di hadapan kaumnya dan berkata: Wahai bani Abdil Asyhal bagaimanakah pendapat kalian tentang diriku?. Mereka berkata: Anda adalah peminpin kami dan orang yang paling baik keturunannya. Dia berkata: Sesungguhnya kalian haram berbicara denganku baik yang laki-laki atau yang perempuan sehingga kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Ibnu Ishaq berkata: Demi Allah tidak ada seorangpun di Bani Abil Asyhal seorang lelaki atau wanita kecuali mereka masuk Islam”.[3]
Dari Abdullah bin Mas’ud RA berkata:  Sa’dd bin Mu’adz pergi berumroh.  Abdullah bin Mas’ud menceritakan:
Maka diapun mampir menginap di rumah Uamayyah bin Khalaf, dan apabila Umayyah mengadakan perjalanan ke Syam dan melewati kota Madinah maka diapun mampir di rumah Sa’d. Umayyah berkata kepada  Sa’d: Tunggu dulu, keluarlah pada saat siang sudah meninggi dan orang-orang sudah tidak menghiraukan siapapun lagi maka engkau boleh pergi dan menjalankan thawaf. Pada saat Sa’d melaksanakan thawaf tiba-tiba Abu Jahl datang lalu dia berkata: Engkau menjalankan thawaf secara aman semantara engkau telah melindungi Muhammad dan para shahabatnya. Maka Sa’d berkata: Ya, maka merekapun saling bertengkar. Lalu Umayyah berkata kepada Sa’d: Janganlah engkau mengangkat suaramu pada Abil Hakam, sebab dia adalah peminpin penduduk lembah ini. Lalu Sa’d berkata: Demi Allah jika engkau menghalangiku bertawaf di rumah Allah ini maka aku akan memboikot perniagaanmu yang mengarah ke Syam. Lalu Umayyah berkata kepada Sa’d: janganlah engkau mengangkat suaramu”. Sambil menahannya berbicara. Akhirnya, Sa’dpun marah dan berkata: Biarkanlah, sesungguhnya aku telah mendengar Nabi SAW memberitahukan bahwa dia SAW akan membunuhmu; Umayyah berkata: Aku ini. Sa’d berkata: Ya. Umayyah melanjutkan: Demi Allah, Muhammad tidak pernah berbohong apabila berbicara; maka diapun kembali pulang kepada istrinya, lalu berkata kepadanya: Apakah engkau tidak mengetahui apa yang telah dikatakan oleh saudaraku yang dari Yatsrib?. Istrinya bertanya: Apakah yang dikatakannya?. Umyyah berkata: “Dia memberitahukan bahwa Muhammad akan membunuhku”. Istrinya berkata: Demi Allah bahwa Muhammad tidak pernah berbohong. Ibnu Mas’ud berkata: Pada saat mereka keluar menuju Badr dan datang seseorang berteriak maka istrinya berkata: Tidakkah engkau mengingat apa yang telah dikatakan oleh saudaramu yang dari Yatsrib?. Ibnu Mas’ud menjelaskan: Dia sebenarnya tidak ingin keluar berperang, namun Abu Jahl berkata: Sesungguhnya engkau adalah pemuka penghuni lembah ini, maka berjalanlah satu atau dua hari lalu diapun berjalan bersama mereka dua hari lalu Allah membinasakannya”.[4]
Dalam peristiwa di atas tanpak keberanian dan ketegasan Sa’d terhadap orang-orang kafir dan kebanggannya terhadap agamanya; Padahal dia sendiri di Mekkah namun dia berani mengancam para tokoh Quraisy di rumah mereka sendiri; dan Nabi SAW memberitahukan kepadanya bahwa dia termasuk penghuni surga. Dari Anas ra bahwa dihadiahkan untuk Rasulullah SAW sebuah jubbah dari kain sutra yang tipis. Dan Nabi melarang memakai kain sutra maka para sahabatpun kagum dengannya; lalu Nabi bersabda:Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya sesungguhnya sapu tangan Sa’d bin Mu’adz di dalam surga lebih baik dari ini.[5]
Di antara sikap hidupnya yang agung adalah apa yang diriwayatkan oleh Aisyah RA bahwa dia berkata: Sa’d terluka pada saat perang Khandak, dia terkena lemparan tombak seorang dari dari suku Quraisy, bernama Ibnul Arifah. Dia terkana pada bagian lengannya, maka Rasulullah SAW mendirikan kemah baginya di mesjid agar beliau bisa mengunjunginya secara leluasa, pada saat Rasulullah SAW kembali dari Khandak maka beliau meletakkan senjatanya lalu mandi, lalu datanglah Jibril kepadanya pada saat beliau membersihkan debu dari kepalanya, dan jibril berkata kepadanya: Apakah engkau meletakkan senjatamu?. Demi Allah kami belum meletakkan senjata kami, kembalilah keluar kepada mereka; Maka Rasulullah SAW bertanya: Kemanakah aku keluar?. Maka diapun memberikan isyarat kepada Bani Quraizhah, maka Rasulpun memerangi mereka dan menghukum mereka dengan hukum yang diputuskan oleh Rasulullah SAW, maka Rasulullah mengembalikan keputusan hukum mereka pada apa yang diputuskan oleh Sa’d. Sa’d berkata: Aku memutuskan untuk mereka agar setiap lelaki yang berperang dibunuh dan wanita-wanita anak-anak mereka ditawan serta harta mereka dibagi. Hisyam berkata: Bapakku berkata: Aku dierbitahukan bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sungguh dia telah memutuskan hukum pada perkara tersebut dengan keputusan hukum yang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah SWT. Kemudian Sa’d berkata: Sementara lukanya sudah mulai sembuh: Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa tidak ada seorangpun yang lebih aku cintai dari berjihad di jalan-Mu guna memerangi kaum yang mendustakan Rasul-MU dan mengeluarkannya. Ya Allah, seandainya peperangan orang Quraisy terhadap Rasul-Mu masih ada maka tetapkanlah aku dalam hidup ini guna berjihad di jalan-Mu. Ya Allah aku berfikir bahwa engkau telah menghapuskan peperangan antara kami dengan mereka, dan jika engkau telah menghapuskan peperangan antara kami dengan mereka maka kambuhkanlah penyakitku dan jadikanlah kematianku padanya, maka darahpun terpancar dari lehernya namun hal tersebut tidak membuat mereka khawatir (di dalam mesjid tersebut juga didirikan sebuah kemah dari Bani Gifar bahwasanya darah tetap menglair sehingga membasahi mereka, mereka berkata: Wahai para penghuni kemah, darah siapakah yang datang dari sisi kalian ini, dan ternyata luka Sa’d mengeluarkan darah lalu dia meninggal karenanya”.[6]
Dan Nabi sangat bersedih dengan meninggalnya Sa’d dan memberitahukan bahwa ‘arsy Allah yang Maha Penyayang bergetar dengan kematiannya. Dari Jabir RA bahwa Nabi bersabda: ‘Arsy Allah Yang Maha Penyayang bergetar dengan kematian Sa’d bin Mua’adz”.[7] Sekalipun Sa’d memiliki derajat yang begitu tinggi namun dia tidak terlepas dari sekapan kubur. Dari Aisyah RA bahwa Nabi bersabda:Sesungguhnya kubur memiliki tekanan dan seandainya ada orang yang bisa selamat darinya  maka Sa’dlah orang yang pantas selamat darinya”.[8]
Imam Al-Zdahabi berkata: Tekanan kubur ini bukan termasuk azab kubur; akan tetapi sebuah rasa sakit yang dirasakan oleh seorang Mu’min yang sama seperti ketersiksaan yang dirasakan oleh seorang mu’min pada saat dirinya kehilangan anak dan kekasihnya di dunia, seperti ketersikasaan yang dirasakan pada saat sakit dan keluarnya nafas, rasa sakit saat menghadapi pertanyaan alam kubur dan ujian kubur, serta pedihnya siksa karena tangisan keluarga atas dirinya, dan kepedihan karena bangkit dari kubur, juga kepedihan saat dikumpulkan di pada mahsyar dan kepedihan suasana genting yang terjadi padanya serta kepedihan melewati api neraka dan yang lainnya; maka getaran yang dirasakan oleh seorang hamba tidak termasuk azab kubur dan tidak pula azab Jahannam, namun Allah SWT meringankan hamba yang beriman pada sebagian peristiwa tersebut atau pada semua peristiwa tersebut, dan tidak ketangan bagi seorang hamba kecuali pada saat dia bertemu dengan Tuhannya. Allah SWT berfirman:
39. Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (QS. Maryam: 39)
18. Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan. (QS. Mu’min: 18)
Kami mohon kepada Allah SWT semoga dia memberikan maaf dan kasih sayang-Nya.
Sekalipun setiap orang merasakan getaran namun kita ketahui bahwa Sa’d termasuk penghuni surga dan dia berada pada posisi syuhada yang paling tinggi, seakan engkau mengira bahwa orang yang menang tidak merasakan suasana yang dahsyat di dua alam ini, tidak pula rasa takut dan pedih serta khawatir, mohonlah kepada Tuhanmu agar Dia mengumpulkanmu pada kelompok Sa’d”.[9]
Wafatnya Sa’d pada tahun ke lima hijriyah, dalam usia muda belia, pada umur tiga puluh tujuh tahun, Nabi menshalatkannya dan dikuburkan di pekuburan Baqi’, semoga Allah meridhai Sa’d dan memberikan balasan bagi diri kita dan kaum muslimin dengan balasan yang lebih baik dan semoga Allah mengumpulkan kita pada tempat yang mulia.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad
, kepada keluarga dan seluruh shahabatnya.

Dr. Amin Abdullah Asy-Syaqawy

[1] Siar A’lamun Nubala: 11/279
[2] Siyar a’lamun Nubala’: 11/279
[3] Siroh Ibnu Hisyam: 2/40
[4] Shahih Bukhari: 2/563
[5] Shahih Bukhari: 3/43 no: 3803 dan shahih Muslim: 4/1916 no: 2469
[6] Shahih Bukhari: 3/119 dan shahih Muslim: 3/1389-1390 no: 1769
[7] Shahih Bukhari: 3/43 no: 3803 dan shahih Muslim: 4/1915 no: 2466
[8] Musnad Imam Ahmad bin Hambal: 6/98
[9] Siyar Alamun Nubala’: 1/290-291

Friday, December 9, 2011

Kisah Khubaib bin Adi

Jangan lupa membagikan artikel ini setelah membacanya
Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengutus sepuluh orang sebagai mata-mata dan menjadikan Ashim bin Tsabit Al-Anshori, kakek Ashim bin Umar sebagai pemimpin mereka. Maka merekapun pergi hingga sampai di Had’ah, sebuah tempat antara Asafan dan Makkah, dan berada di sebuah kampung dari Bani Hudzail yang dikenal dengan nama Bani Lihyan, rombongan tersebut diketahui keberadaannya. Lalu berangkatlah dua ratus personil pemanah yang mengejar rombongan mata-mata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tersebut.  Pasukan pemanah itu memburu jejak mata-mata tersebut sehingga mereka sampai pada suatu tempat untuk beristirahat dan makan bekal yang berupa kurma yang dibawa dari Madinah. Kelompok pengejar inipun berkata: Ini adalah kurma dari Yatsrib, lalu merekapun segera memburu jejak para shahabat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Lalu pada saat Ashim melihat mereka maka para kelompok shahabat inipun pergi menuju Fadfad, namun para musuh telah mengepung mereka lalu berkata: “Berikanlah apa-apa yang kalian bawa dan itu akan menjadi jaminan bagi keselamatan kalian dari kami dan kami tidak akan memukul seorangpun dari kalian. Maka pemimpin pasukan, Ashim bin Tsabit berkata, “Adapun saya, maka demi Allah saya tidak akan menerima jaminan apapun dari orang kafir, ya Allah beritahukanlah nabi -Mu tentang kami, maka para musuhpun melempar mereka dengan anak panah, maka merekapun membunuh Ashim dengan tujuh panah. Lalu tiga orang menerima perjanjian keamanan di antara mereka adalah Khubaib Al-Anshori, Ibnu Datsinah dan seorang lelaki yang lain. 

Lalu pada saat mereka telah menguasai para shahabat ini maka merekapun mengikat para shahabat yang tertangkap ini. Lalu shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang ketiga berkata, “Inilah permulaan dari pengkhianatan, demi Allah aku tidak akan mengikuti kalian pada perkara ini, sesungguhnya pada orang-orang (yang telah meninggal) ini adalah tauladanku, lalu para musuh itupun menggeret seorang shahabat ini dan memaksanya untuk mengikuti dua shahabat yang lain namun dia tetap enggan, akhirnya merekapun membunuhnya. Lalu para musuh itupun membawa Khubaib dan Ibnu Datsinah dan menjual mereka di Mekkah dan ini terjadi setelah perang Badr. Lalu Khubaib dibeli oleh Bani Harits bin Amir bin Naufal bin Abdi Manaf. Dan KKhubaiblah yang telah membunuh  Al-Harits bin Amir pada perang Badr. Maka Khubaib menjadi tawanan mereka. Aku diberitahukan oleh Ubaidullah bin Ayyad bahwa anak wanita Al-Harits memberitahukan kepadanya bahwa pada saat mereka berkumpul Khubaib meminjam sebuah pisau untuk diasah, maka wanita itupun meminjamkan pisau itu, lalu dia mengambil seorang anakku karena saat itu aku lalai mengawasi anak tersebut lalu anak itupun mendatanginya. Anak wanita Al-Harits berkata, “Aku mendapati anak tersebut di pangkuannya sementara pisau itu masih di tangannya, maka akupun terkaget dan  khawatir, Khubaibpun mengetahui hal itu dari raut wajahku, lalu Khubaib berkata, “Apakah engkau takut jika anak ini aku bunuh, aku tidak akan melakukan hal itu.” Demi Allah aku tidak pernah sekali-kali melihat seorang tawanan yang lebih baik dari Khubaib, demi Allah suatu hari aku pernah melihatnya memakan sejumlah anggur di tangannya padahal tangannya terbelenggu pada sebuah besi dan di Mekkah tidak ada buah pada saat itu. Dan dia berkata: Sesungguhnya itu adalah rizki yang diberikan oleh Allah kepada KKhubaib. Lalu pada saat masyarakat Mekkah keluar dari tanah haram untuk memubunuh Khubaib di tanah halal (di luar tanah haram) KKhubaib berkata: Biarkanlah aku shalat dua rekaat, lalu merekapun membiarkan shalat dua rekaat lalu berkata:  Seandainya kalian menyangka bahwa aku takut maka aku pasti memanjangkan dua rekaat ini, ya Allah hitunglah jumlah mereka:
Aku tidak hiraukan saat diriku terbunuh sebagai muslim
Pada perkara apapun maka kematianku hanya karena Allah
Semua ini demi membela Zat Allah, dan jika Dia berkehendak
Memberikan berkah pada anggota tubuh yang tercerai berai
Lalu Khubaib dibunuh oleh anak laki-laki Al-Harits. Dan Khubaib telah mengawali memberikan contoh dua rekaat bagi setiap orang muslim yang terbunuh dengan kesabaran. Dan Allah mengabulkan do’a Ashim bin Tsabit pada saat dia terbunuh, maka Nabi Muhammad memberitahukan kepada para shahabatnya tentang berita mereka dan apa yang menyebabkan mereka terbunuh, dan masyarakat Quraisy telah mengutus beberapa orang dari mereka ketika mendengar bahwa Ashim telah terbunuh agar mereka bisa mendatangkan sesuatu yang bisa menjadi bukti identifikasi untuk mengenalnya, sebab dia telah membunuh seorang tokoh Quraisy pada perang Badr. Maka Allah mengirimkan kepada Ashim seperti sekumpulan lebah dan menjaganya dari utusan suku Quraisy sehingga mereka tidak bisa memotong apapun dari bagian tubuhnya”.[1]
Hadits ini mengandung banyak pelajaran, banyak disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Bari:[2]
Pertama: Disebutkan di dalam hadits tersebut bahwa Ashim bin Tsabit telah membunuh seorang tokoh Quraisy pada perang Badar, Ibnu Hajar berkata: Mungkin yang dibunuh itu adalah Uqbah bin Abi Mu’ith, dan disebutkan dalam riwayat Ibnu Ishak dari Ashim bin Umar dari Qotadah berkata: Ashim bin Tsabit telah meminta janji kepada Allah agar dia tidak disentuh oleh orang musyrik dan dia tidak menyentuh orang musyrik selamanya”. Dan di dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa dia berkata, “Sesungguhnya aku pada hari ini telah menjaga agamamu maka jagalah dagingku, lalu Allah mengutus kumpulan lebah dan menjaganya dari sentuhan jahil orang-orang musyrik. Umar radhiallahu ‘anhu berkata pada saat berita itu datang kepadanya, “Allah menjaga hamba yang beriman setelah kematiannya sebagaimana Dia menjaga mereka pada saat hidupnya”.
Kedua: Seorang tawanan boleh menolak jaminan keamanan dan boleh bagi dirinya menghalangi orang kafir menguasai dirinya sekalipun harus terbunuh, untuk menghindari hukum orang kafir berlaku pada dirinya. Hal ini boleh jika dia ingin bersikap dengan sikap azimah (bertekad yang kuat). Tetapi jika dia ingin mengambil keringanan maka dia boleh meminta jaminan keamanan.
Ketiga: Setia pada janji walaupun dengan orang-orang yang musyrik, tidak membunuh anak mereka dan bersikap lembut terhadap orang yang ingin dibunuh.
Keempat: Berdo’a secara umum untuk kehancuran orang-orang musyrik dan shalat pada saat akan dibunuh. Dan di dalam hadits ini disebutkan bahwa Khubaib adalah orang pertama yang memulai shalat dua rekaat pada saat akan terbunuh.
Kelima: Di dalam hadits ini disebutkan boleh menyenandungkan puisi dan sya’ir pada saat akan terbunuh dan hal itu menunjukkan kekuatan, keyakinan dan kekokohan agama Khubaib.
Keenam: Allah subhanahu wa ta’ala menguji hamba yang beriman dengan apa yang dikehendaki -Nya, seperti bentuk ujian yang tertera dalam ilmu Allah agar Dia memberikan pahala bagi dirinya dengan ujian tersebut. Dan jika Allah menghendaki niscaya mereka tidak melakukannya. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman:
Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?.Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 1-3).
Ketujuh: Di dalam hadits ini dijelaskan tentang diterimanya do’a seorang muslim, memuliakannya baik dalam keadaan hidup atau mati. Dan Allah mengabulkan permohonannya dalam menjaga tubuhnya dari  sentuhan orang-orang musyrik dan tidak menghalangi mereka membunuhnya pada saat Dia berkehendak memuliakannya dengan mati syahid. Dan di antara bentuk penghormatan yang diberikan oleh Allah kepadanya adalah menjaganya dari rongrongan kehormatannya dengan memotong bagian dari anggota tubuhnya.
Kedelapan: Dalam hadits ini diterangkan sikap orang-orang Quraisy yang sejak dahulu telah memuliakan al-haram dan bulan-bulan haram.
Kesembilan: Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa berkhianat dan menyalahi janji salah satu sifat orang kafir, mereka telah membunuh Abdullah bin Thariq dan mereka menjual Zaid dan Khubaib kepada orang-orang Quraisy hanya untuk memperoleh sedikit uang dirham.
Kesepuluh: Penghargaan Allah bagi para walinya baik di dunia atau di akherat kelak. Sesungguhnya Khubaib telah diberi oleh Allah anggur padahal di Mekkah pada saat itu tidak ada anggur dan dia terbelenggu dengan rantai di dalam lingkungan musuhnya. Maha Benar Allah dengan firman -Nya:
Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. Al-Thalaq: 2-3).
Banyak ibrah dan pelajaran yang lainnya yang bisa diambil pada saat kita merenungkan hadits ini.
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi

[1] Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya no: 3045
[2] Fathul Bari 7/384

BIOGRAFI KHALID BIN WALID Radhiyallahu’anhu


Jangan lupa membagikan artikel ini setelah membacanya

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.. Amma Ba’du:
Tulisan ini adalah bagian kecil dari biografi seorang tokoh terkemuka umat ini, dia salah seorang pahlawan dan kesatria umat ini, dia salah seorang tokoh shahabat Rasulullah saw yang mulia, dan dari perjalanan hidupnya ini kita akan menggali berbagai pelajaran dan ibroh.
Shahabat Rasulullah saw ini masuk Islam pada tahun kedelapan hijriyah dan telah terjun dalam puluhan peperangan.
Para sejarawan mencatat, dia tidak pernah kalah dalam satu peperanganpun baik pada saat jahiliyah atau setelah masuk Islam, dia berkata tentang dirinya: Sungguh dengan tanganku ini telah terpotong sembilan pedang pada saat peperangan Mu’tah sehingga tidak tertinggal di tanganku kecuali sebuah pedang yang berasal dari Yaman”.[1]
Hal ini membuktikan tentang keberaniannya yang brilian dan kekuatan besar yang telah dianugrahkan baginya oleh Allah pada jasadnya. Dan beliau adalah komando pasukan kaum muslimin pada perang yang masyhur yaitu perang Yamamah dan Yarmuk, dan beliau telah melintasi perbatasan  negeri Iraq menuju ke Syam dalam lima malam bersama para tentara yang mengikutinya. Inilah salah satu keajaiban komandan perang ini. Nabi saw telah menggelarinya dengan sebutan pedang Allah yang terhunus, dan beliau memberitahkan bahwa dia adalah salah satu pedang Allah terhadap orang-orang musyrik dan kaum munafiq.[2]
Dia adalah seorang kesatria, Khalid bin Walid bin Al-Mugiroh Al-Qurosy Al-Makhzumy Al-Makky, anak saudari ummul mukminin Maimunah binti Al-Harits ra, dia seorang lelaki yang kekar, berpundak lebar, bertubuh kuat, sangat menyerupai Umar bin Al-Khattab ra. Shahabat memilki sikap kepahlawanan besar yang mencerminkan dirinya sebagai seorang pemberani dalam  membela agama ini, di antara cerita tentang kepahlwanan beliau adalah apa yang terjadi pada perang Mu’tah, pada tahun ke delapan hijriyah, pada tahun dia memeluk Islam. Jumlah tentara kaum muslimin pada saat itu sekitar tiga ribu personil sementara bangsa Romawi memilki dua ratus ribu personil, melihat tidak adanya keseimbangan jumlah tentara kaum muslimin di banding musuh mereka, terkuaklah sikap kesatria dan kepahlawanan kaum muslimin pada peperangan ini. 
Nabi saw telah memerintahkan agar pasukan dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, dan jika dia terbunuh maka kepeminpinan berpindah kepada Ja’far bin Abi Thalib, dan jika terbunuh maka kepeminpinan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah. Semua peminpin di atas mati syahid pada peperangan ini, lalu bendera diambil alih oleh Tsabit bin Aqrom, dan dia berkata kepada kaum muslimin: Pilihlah seorang lelaki sebagai peminpin kalian, maka mereka memilih Khalid bin Walid, maka pada peristiwa inilah tanpak jelas keberanian dan kejeniusannya. Dia kembali mengatur para pasukan, maka dia merubah strategi dengan menjadikan pasukan sayap kanan berpindah ke sayap kiri dan sebalikanya pasukan sayap kiri berpindah ke sebelah kanan, kemudian sebagian pasukan diposisikan agak mundur, setelah beberapa saat mereka dating sekan pasukan batuan  yang baru datang, hal ini guna melemahkan semangat berperang musuh kemudian kesatuan tentara kaum muslimin terlihat menjadi besar atas pasukan kaum Romawi sehingga menyebabkan mereka mundur dan semangat mereka melemah. Dia ra telah memperlihatkan berbagai macam bentuk keberanian dan kepahlawanan yang tidak bisa tandingi oleh semangat para pahlawan. Selain itu, dengan keahliannya dan kecerdasannya dia mulai mengarahkan pasukan kaum muslimin untuk mundur secara teratur dengan cara yang unik, dan cukuplah  dengan peukulan yang seperti itu, dan beliau melihat agar pasukan kaum muslimin tidak terserang pada sebuah peperangan yang tidak sebanding. Dan saw menyebut hal itu sebagai kemenangan dan beliau bersabda pada saat menyebut ketiga komandan yang gugur syahid kemudian bendera akan diambil oleh salah satu pedang Allah sehingga Allah memberikan kemenangan bagi kaum muslimin atas musuhnya.[3]
Khalid juga ikut serta dalam peperangan melawan kaum yang murtad, beliau juga ikut berperang menju Iraq, dan para ulama berbeda pendapat tentang  sebab dipecatnya Khalid sebagai komando perang di Syam, dan semoga yang benar adalah apa yang dikatkaan oleh Umar bin Khattab ra: Tidak, aku akan memecat Khalid sehingga masyarakat mengetahui bahwa sesungguhnya Allah membela agamanya tidak dengan Khalid.[4]
Di antara ungkapannya yang agung adalah tidaklah sebuah malam di mana aku bersama seorang pengantin yang aku cintai lebih aku sukai dari sebuah malam yang dingin lagi bersalju dalam sebuah pasukan kaum muhajirin guna menyerang musuh.[5]
Dia pernah menulis sebuah surat kepada kaesar Persia yang mengatakan: Sungguh aku telah telah datang kepada kalian dengan pasukan yang lebih mencintai kematian sebagaimana orang-orang Persia menyenangi minum khamar.
Qais bin Hazim berkata:  Aku telah mendengar Khalid berkata:  Berjihad telah menghalangiku mempelajari Al-Qur’anul Karim.[6]
Abu Zannad berkata:  Pada Sa’ad Khlaid akan meninggal dunia dia menangis dan berkata: Aku telah mengikuti perang ini dan perang ini bersama pasukan, dan tidak ada satu jengaklpun dari bagian tubuhku kecuali padanya terdapat bekas pukulan pedang atau lemparan panah atau tikaman tombak dan sekarang aku mati di atas ranjangku terjelembab sebgaiamana matinya seekor unta. Janganlah mata ini terpejam seperti mata para pengecut.[7]

Sungguh Khalid mengharapkan mati syahid dan semoga Allah menyampaikannya pada derjat yang dicita-citakannya.

Dari Sahl bin Abi Umamah bin Hanif dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang meminta kepada Allah mati syahid dengan sebenarnya maka Allah akan menyampaikannya kepada derajat orang-orang yang mati syahid sekalipun dirinya mati di atas ranjangnya.[8]
Lalu pada saat wafat, dia tidak meninggalkan kecuali kuda, senjata dan budaknya yang dijadikannya sebagai shadaqah dijalan Allah, pada saat berita kematian tersebut sampai kepada Amirul Mu’minin, Umar bin Al-Kattab dia berkata:  Semoga Allah meberikan rahmatnya kepada Abu Sualiaman, sesungguhnya dia seperti apa yang kami perkirakan”.[9]
Dan disebutkan  di dalam hadits riwayat Umar bin AL-Khattab tentang zakat bahwa Nabi saw bersabda:  Adapun Khalid maka dia telah menyimpan baju besinya dan perlengkapan berperangnya di jalan Allah”.[10]
Dia wafat pada tahun 21 H di Himsh pada usia 52 tahun, semoga Allah memberikan kepada Khalid balasan yang lebih baik dan semoga Allah mempertemukan kita dengannya surga yang mulia, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

[1] Shahihul Bukhari: 3/146 no: 4265
[2] Musnd Imam Ahmad: 1/8
[3] Shahih Bukhari: 3/33 no: 3757
[4] Siar A’lamun Nubala’: 1/378
[5] Siar A’lamun Nubala’: 1/375
[6] Disebutkan oleh Al-Hafiz di dalam kitab Al-Mathalibul Aliyah: 4041
[7] Siar A’lamun Nubala’: 1/382
[8] Shahih Muslim: 3/1517 no: 1909
[9] Siar A’lamun Nubala’: 1/383
[10] Shahih Bukhari: 1/447 disebutkan secara mu’allaq di dalam bab zakat.

Popular Posts

DOWNLOAD AZAN

ISLAMIC BANNER

ISLAMIC FHOTO

DAILY PRAYER TIME